Kutipan Favorit :
"Aku memperlakukan setiap menit yang kuhabiskan bersama keluarga dan teman-teman bagaikan waktu-waktu yang sangat berharga. Aku memperhatikan wajah dan suara mereka dengan cermat, supaya tidak melupakan semua itu. Aku tahu aku takkan pernah melihat mereka lagi dan hal itu membuat hatiku pedih, tapi hal ini memang harus terjadi. Tidak ada jalan kembali." -Darren Shan-

Cirque Du Freak-Buku pertama Darren Shan Saga oleh Darren Shan

Monday, 29 February 2016

Review : Coupl(ov)e by Rhein Fathia

Penulis : Rhein Fathia
Penerbit : Bentang
Tahun Terbit : Februari 2013
Tebal : 388 halaman
Genre : Romance, New Adult
Status : Hibah

Sinopsis

Kau tahu, kenapa orang menikah selalu mendapat ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”?
Karena mereka harus meninggalkan orang-orang yang pernah mereka cintai di masa lalu.
***
Perjanjian konyol itu merusak semua cita dan anganku. Sungguh, tak pernah aku bermimpi akan bersanding denganmu di pelaminan.
Ditambah lagi menghabiskan hidup hingga tua bersamamu. Bagiku, kau tidak lebih dari sekadar sahabat yang sangat baik, yang setia menjadi pendengar kisah suka dukaku, yang punya bahu kuat untuk kusandarkan kepalaku dengan mata sembab karena tangis, dan yang selalu menjadi penyemangat untukku jalani hidup.
Haruskah aku seorang Halya menyerah pada fakta? Seperti katamu, sahabatku Raka .... Komitmen itu seharusnya dipertahankan, bukan dilepaskan. Tapi yakinkah juga dirimu, kita akan sanggup bertahan?

My Story

Di suatu sore, mbak Esti yang bekerja di Penerbit Mizan men-share foto foto bukunya. Beliau sedang membereskan rak bukunya. Buku yang di share banyak sekali. Sekitar 30 buku. Aku membaca messagenya sekitar 2 jam kemudian.

Yang bikin shock, puluhan buku itu ternyata dibagikan gratis!

Salah satu di antaranya ada buku Kill Order. Aku nunggu terjemahannya sampe dua tahun. Dan sekitar setengah tahun tak juga mendapat kesempatan untuk membaca. Sempat rebutan buku itu dengan teman. Tapi akhirnya mereka merelakan. Karena aku yang bakal ambil buku itu dari rumah mbak Esti dan bagi bagi ke mereka kirim via pos XD

Sampai di rumah mbak Esti yang ke dua kalinya (ambil buku kloter ke dua yang jumlahnya juga 30-an!), ada tumpukan buku tambahan yang diperlihatkan. Awalnya itu buku untuk ibu ibu di tk tempat Adinda (anak mbak Esti) sekolah. Aku melihat buku ini dan langsung memekik "Mau."


Pin

Awal buku ini ngagetin. Baru di halaman 8 udah bikin memekik "What?!". Harusnya gak kaget sih ya dengan pernikahan Halya dengan Raka. Bukankah hal itu justru penggerak cerita?

Perlu usaha keras untuk membaca buku ini. Karena aku masih belajar membaca buku buku new adult. Masih perlu mikir karena pertumbuhanku berhenti di umur 18 dan itu berarti aku masih teenlit XD

Tapi buku ini gak seberat buku new adult yang aku baca. Dibuku ini banyak flashbacknya dan gak bersusun. Jadi harus pinter pinter nginget alurnya. Porsi bagian ketika Halya dan Raka masih muda juga banyak. Cerita masa kininya porsinya sedikit.

Katanya tak ada persahabatan yang murni antara perempuan dan laki laki.

Halya menceritakan segalanya pada Raka. Begitu pula sebaliknya. Mereka bersahabat sejak SMA, selama belasan tahun mereka bersama dan kini status mereka berubah jadi suami istri.

Menurut gue, ini adalah jawaban Tuhan buat doa mereka. Siapa suruh nyeplos bilang kalau mereka mau nikah kalau sampe umur 30 belum dapet jodoh? Terkabul kan?

Flashback ini panjang. Halya bercerita pada Raka tentang pacarnya yang ia kenal di kampus. Lalu bercerita juga akan patah hatinya. Lalu ada cerita lain tentang laki laki yang sangat Halya cintai. Laki laki ini mau tak mau mengenal Raka. Yah, sahabat mah kadang sepaket X)) Meski cemburu, laki laki yang bernama Gilang ini harus maklum.

Berbeda dengan Halya, Raka lebih banyak mendengarkan. Menganggap Halya aneh seperti biasa kalau dia berbicara tentang cinta. Tapi Raka sadar ketika dia jatuh cinta pada gadis bernama Rina, kalau dia bisa seaneh Halya.

Tapi ketika Halya masih mencintai Gilang dan Raka masih mencintai Rina padahal Raka dan Halya sudah menjadi suami istri?

Romantisme yang ada di dalam buku ini ada di atas batas toleransi yang aku punya. Yah, aku bukan penikmat romance sejati soalnya XD Aku lebih suka cara Raka yang tak bisa bersikap romantis. Jatuhnya jadi lucu.

Ada kejutan kejutan di dalamnya. Baik yang masa kini maupun masa lalu. Hanya saja berhubung cerita seperti ini sudah termasuk cerita yang endingnya tertebak, apapun yang terjadi aku akan menganggap semua akan baik baik saja.

Pekerjaan Halya sebagai penulis sedikit menggangguku. Entah deh dari dulu suka gak sreg baca pekerjaan tokoh di buku yang menjadi penulis. Yah, kalau kerjaan tiap hari nulis jadi gak aneh lagi sama kerjaan yang satu ini. Pengennya yang lain. Yang nambah ilmu. Banyak adegan yang menggunakan setting di pekerjaan Halya. Di kantor penerbit, pameran buku, acara bedah buku, dan tentu saja di depan laptop. Tapi kalau aku tidak.salah memperhatikan, dibuku ini sama sekali tidak membahas pekerjaan Raka. Memang disebutkan apa pekerjaannya, tapi kegiatan Raka sendiri tidak diceritakan. Hanya diceritakan Raka pulang kantor jam sekian, istirahat makan siang keluar. Apa aku melewatkan sesuatu?

Keluarga Halya dan Raka juga gak dieksplore. Di bagian awal Halya sering ditelfon oleh ibunya. Tapi makin ke belakang, rasanya tidak ada interaksi dengan keluarga kecuali ketika mereka pulang kampung.

Setting tempat nya diceritakan dengan baik. Aku menyukainya. Meski ada yang mengganjal sedikit soal kondisi di rumah sakit. Halya bisa melihat ke dalam ruang operasi dari jendela. Masalahnya, aku aja yang kerja di rs, gak bisa masuk lebih jauh ke ruang operasi (ruang bedah sentral namanya) tanpa prosedur. Aku hanya bisa masuk ke ruang transit dan ke ruang recovery. Ada ruangan tempat penyimpanan barang dan ruang tempat persiapan perawat. Tapi aku tidak bisa masuk ke sana begitu saja. Harus menggunakan baju ruang operasi, harus pake alas kaki khusus ruang operasi, harus sterilkan tangan. Ini kon ya bisa Halya yang baru aja terbang pake pesawat bisa gitu aja masuk ke ruang bedah sentral dan melihat ke dalam (ruang operasi).

Alurnya cepet cepet lambat. Yang lambat ini yang bikin gemes. Ketika Halya dan Raka sama sama diam dan berharap yang lain melakukannya lebih dulu.

Obrolan mereka tetap obrolan antar sahabat. Tak salah kalau mereka disebut pasangan sarap XD
Oh iya, adegan di halaman 31 bikin aku keingetan obrolan dengan temen temen di grup wasap. Ketika mereka memaksaku membayangkan yang terjadi bila aku dan Josh Hutch terdampar di pulau entah karena alasan apa. Ketika itu Josh baru saja selesai mandi dan aku yang ada diujung tebing akan jatuh ke jurang. Kalian semua kampret XD


0 comments:

Post a Comment